Dunia Dewi

January 15, 2007

AUDIOSLAVE : kembali ke jalan yang benar

Filed under: Music —— dewi-hera @ 12:21 am

Audioslave1
AUDIOSLAVE is back! Setelah agak ‘mendem” di album ‘Out of Exil’ Audioslave tak mau berlama-lama ‘terpukul’ dengan album itu. Berbeda dengan rentang waktu album pertamanya ‘Audioslave’ [2002] yang cukup lama masuk ke album 2 [2005], kini hanya terpaut setahun, Chris Cornell [vocal], Tim Commerford [bass], Brad Wilk [drum] dan Tom Morello [gitar] langsung menyembur dengan album terbaru ‘Revelations’.

Memang, Audioslave belum mampu lagi menciptakan hits keren macam ‘Cochise’ di album pertama. Tapi bukan band papan atas namanya, kalau kemudian karya mereka berhenti pada satu titik dan mulai merosot. Tidak. Audioslave buka model band seperti itu.

Di album ‘Revelations’ Tim Morello dan kawan-kawannya ini mencoba bermain lirik di area yang lebih luas. Diakui atau tidak, kritik-kritik pedas [sangat pedas malah] ketika tiga personil Audioslave [minus Chris Cornell] masih gabung di Rage Agains The Machine [RATM], kembali mencuat di album ketiga ini. Simak benar-benar single ‘Sound Of Gun’. Kurang apa mereka bicara soal “muaknya” mendengar suara senjata bertebaran di luar rumah kita. Dengar distorsi gitar Tim Morello yang nyeleneh. Sekedar gambaran, Tim Morello –konon—belajar gitar secara otodidak. Hebatnya, Morello justru bisa membuat gaya sendiri yang tidak pernah diajarkan di bangku sekolah musik manapun. Pingin lebih tahu style gitaris nyeleneh ini? Track ‘Jewel of the Summertime’ dan ‘Original Fire’ memberi contoh yang jelas.

Entah sedang menyoroti apa, tapi Revelations menjadi ‘sisi gelap’ Audioslave yang terbuka lebar-lebar. Mereka tiba-tiba bicara soal kritik sosial, keresahan dan cinta tapi dari sisi gelap laki-laki. Vokal Chris Cornell memang tak melesat seperti di album pertama, malah kadang-kadang di beberapa lagu yang perlu range tinggi, Chris sudah mulai keteter. Perhatikan Revelation, Untill We Fall, dan One And the Same. Tak jelek, tapi pemilihan karakter lagu yang sesuai dengan kondisi vokalnya [sekarang] akan lebih membantu.

Tapi hati-hati, meski masih tetap gahar dan menghentak dengan lirik yang kain dashyat, Audioslave tampaknya sedang mengalami siklus ‘roller coaster’ naik dan turun. Kini mereka sedang menaik, tapi tak tajam. Satu hal yang membaik dari band ini adalah komposisi lagu dan aransemen yang makin apik. Paling tidak, Audislave tak terjebak mencoba “bermenye-menye” dengan kedok realistis melihat pasar. Album ‘Revelations’ memang bukan album terbaik mereka, tapi inilah album yang menyadarkan kita, Audioslave tak mau terjerembab dalam kapasitas musikalitasnya.

WPMU Theme pack by WPMU-DEV.