Dunia Dewi

August 29, 2007

MuSik KaTrOwW ?!?

Filed under: Music —— dewi-hera @ 9:03 pm

MUSIK NDESO? Loh, masih ada toh anggapan kaya gitu? Setahu saya, musik ndeso itu hanya ada di imajinasi saja. Lalu mengapa tudingan-tudingan dan semua celotehan tentang musik ndeso itu selalu nongol setiap ada band yang dianggap tidak se-selera dengan orang kota? Apakah kemudian lirik, aransemen dan musikalitas mereka-mereka yang berteriak-teriak musik ndeso itu jadi lebih keren dan langsung dianggap bagus karena lebih kota, lebih modern dan lebih fashionable?

Lalu apakah yang disebut musik ndeso itu? Apakah sama dengan musik pinggiran? Ataulah sejenis dengan musik kacangan? Apakah karena liriknya sederhana, progresi gitarnya maksimal empat kord, dan cara menyanyi yang simple tanpa ornamen-ornamen yang njlimet?

Mbuh-lah. Tapi mbok iyao sekarang kita bicara musik saja Musik yang tidak peduli dengan tudingan sampah, kotoran, tahi, atau seabrek sebutan lainnya. Mari bicara musik dan mengapresiasinya dalam segala bentuknya. Tanpa embel-embel ndeso, kampungan, katro dan sejenisnya.

Musik adalah perwujudan sastra lirik dan harmoni nada yang menonjol. Tidak selalu lirik kudu njlimet dan sok ‘nyastra’ untuk bisa dibilang berkualitas, berkelas dan punya penjiwaan tinggi. Mungkin liriknya sangat simple dan to the point, tapi justru bisa mejadi pengaruh untuk banyak orang. Musik [dan musisi] menghasilkan banyak karya dalam banyak bahasa [di seluruh dunia]. Ada pameo usang yang mengatakan ‘musik itu universal’. Maknanya sebenarnya sederhana, musik itu bisa dinikmati siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Apakah saya harus tahu liriknya? Tidak! Meskipun kalau tahu artinya, mungkin bisa lebih bermakna [minimal buat yang ngedengerin].

Musik juga sangat memungkinkan pencipta dan pendengarnya menghadirkan sensasi dan ‘orgasme’ yang berbeda. Ketika pencipta terhanyut dalam proses penciptaan sebuah lagu, pendengar mungkin bisa terwakili dari kejadian-kejadian yang kental dengan lirik lagu itu. Malah lagu, lirik, pencipta dan pendengarnya, bisa “menemukan” sosok dan kepribadian yang utuh dan panjang lebar. Ibaratnya, mendengar lagunya saja, kita bisa membayangkan sedang apa si penciptanya.

Coba perhatikan lirik-lirik dari penyanyi era 60-an sampai 2000-an. Ada perubahan dalam ujud ungkapan, pernyataan, atau cara bertutur. Simpelnya, ketika bicara soal cinta, ada banyak “jalan” untuk mengungkapkannya. Dulu –zaman oma opa kita—mungkin lebih berbelit dan muter-muter hanya untuk bilang ‘aku cinta padamu’. Remaja sekarang, mana mau ‘banyak jalan menuju Roma’ untuk nembak cewek. Langsung jedeeer.

Mungkin beda rasa saja. Ketika era Koes Plus tahun 60-an sampai 70-an sebenarnya tudingan band propagandis, band intel, band ndeso, band kampung, sudah sering mereka terima. Toh mereka dengan musik yang terdengar sederhana secara musikalitas itu pun melenggang meski sempat masuk penjara karena diangggap sebagai musik ngak ngik ngok yang tidak sesuai dengan spirit kebangsaan Indonesia waktu itu.

Lalu ketika kita dihadapkan pada pertanyaan bagaimana aslinya musik Indonesia itu? MUSIK INDONESIA. Sebuah kata yang bisa berarti musik yang asli Indonesia, tapi bisa juga bermakna dunia musik yang berkembang di Indonesia, tanpa embel-embel kata asli. Masih bisa diperdebatkan, karena sejatinya musik Indonesia terangkum dalam rentang panjang yang tentu saja banyak dipengaruhi oleh banyak warna.

Dan fenomena itu kemudian menyembul. Radja, bukan band baru yang mencoba tetap eksis, akhirnya menemukan “racun” saat sukses lewat album ‘Langkah Baru’. Sukses radja diikuti dengan serentetan caci maki dan seabrek keluh kesah musisi. Pasalnya, kualitas musik radja dianggap “ngebanting” kualitas musik yang coba dibangun susah payah oleh beberapa musisi. Lahirlah istilah “musik kentang”, crispy, renyah, dan mudah ditelan oleh penikmat musik Indonesia.

Kehadiran radja di blantika musik Indonesia ternyata “mengacak-acak” peta musik Indonesia yang kemudian menjadi perdebatan, apakah selera musik orang Indonesia memang lagu-lagu seperti itu? Menurun atau jalan di tempat sih apresiasi orang terhadap musik Indonesia? Sampai akhirnya mengerucut pada satu asumsi, pop yang disukai harus seperti radja. Ada sentuhan melayunya, cara bernyanyinya juga pake ‘ngeleyot’ [mendayu].

Kalau kemudian ada anggapan, band itu selain skill musikalitas yang memadai, juga kudu punya tampilan fisik yang cukup menjual, tampaknya kini juga harus dibuang jauh-jauh. Fenomena kedua yang muncul lewat KANGEN Band, mematahkan asumsi itu. Dari semua personil band asal Lampung ini, nyaris tidak ada yang ganteng. Vokalisnya saja sering dicela-cela sebagai tidak punya aura star yang memadai.

“Gile, nyanyi fals, musik kacau, suara kemana tau,” celetuk seorang wartawan dari majalah musik kondang ketika menyaksikan konser band yang sudah punya satu album ini. Dan pernyataan [atau celaan sebenarnya?] itu bukanlah hal baru yang diterima band ini. Mereka dianggap sebagai “perusak” musik Indonesia. “Kita seperti terjerembab pada jurang yang dalam, ketika band ini keluar,” celetuk seorang kawan wartawan. Tak hanya itu, musiknya pun dituding sebagai musik “sampah” oleh seorang pengamat musik.

Ini bersinergi dengan selera musik. Kaum urban, merasa kalau tidak mendengar musik ajep-ajep, hip-hop, pop alternative, jazz, tidak kereeeeen. Kemudian lahirlah “pengkotakkan kuping”. Ketika satu band muncul dengan album baru, serta merta langsung dipinggirkan dengan dalih, ‘musik loe cocok buat daerah pinggiran tuh’. Siapa yang berhak menentukan satu jenis musik cocok untuk daerah pinggiran, perkotaan atau kaum jet set?

Mengapa mereka bisa diterima oleh masyarakat? Usut punya usut, labelnya melihat adanya kekosongan pasar C dan D. Pasar itu adalah pasar kelas bawah yang butuh lagu yang bisa dinikmat sesuai kuping mereka. Cirinya, tidak ribet, sederhana, gampang dihapal dan bisa genjrang-genjreng sambil nongkrong rame-rame.

Pasar massal dalam dunia dagang adalah kelompok konsumen paling besar untuk produk tertentu. Lebih spesifik lagi pasar massal untuk Kangen Band tersebut adalah kelompok C dan D. Mereka, dari parameter daya beli, adalah kelompok masyarakat menengah ke bawah. Lalu, inikah pasar yang paling besar di Indonesia, kelas C dan D tadi? Agak susah juga menghitungnya, tapi dengan penjualan menembus 300 ribu kopi [belum termasuk bajakannya], rasanya kita tak bisa mengelak, Kangen Band bisa diterima dengan segala kontroversinya.

Dari Jogjakarta Dengan Musik Ndeso?
Sukses Radja dan Kangen band membuat label-label lain melihat ada ceruk yang kosong. Dan kemudian kemudian berbondong-bondong semua mencari band yang ‘kampung, ndeso, simple, gampang, melayu, mendayu ’suara meleyot’. Tentu saja mereka ingin laku, sukses dan hitungan nominalnya masuk. Peningkatan, pencerahan dan kemajuan kualitas musikal? Ntar dulu deh…

Dan lahirlah band-band yang berbasis pop, tapi dengan lirik dan musikalitas yang sesederhana mungkin. Lahirlah ST12 [Trinity], Anima [SonyBMG], Matta [EMI], Bre [Warner], Vagetoz [SonyBMG], Satria Band [DNB], Kojo [Warner], selain Kangen Band [Warner] dan Radja [EMI] tentu saja.

ST12 adalah grup asal Bandung yang terdiri dari 4 personil, Pepep [drum], Iman Rush [Guitar], Pepeng [Guitar], dan Charly Van Houtten [Vokalis] ini dibentuk sejak Januari 2005 lalu. Nama ST12 sendiri diambil dari nama jalan, Stasiun Timur No 12, yang merupakan lokasi studio tempat mereka kumpul. Di studio tersebutlah, keempat orang pemuda ini kerap kali berkumpul dan mengasah kemampuan mereka dalam bermusik. “Studio ini memang sering dijadikan tempat mangkal oleh teman-teman musisi lain, baik yang yunior, maupun senior di Bandung,” jelas Pepep mengenai sejarah berdirinya ST12.

Vokalisnya dianggap personifikasi dari vokalis band yang sudah ngetop. “Habis mirip banget suaranya,” celetuk seorang kawan yang menyimak lagu-lagu ST12. Meski tidak “meledak besar” tapi band ini cukup mencuri perhatian dari penikmat musik.

Kemudian ada Anima. DI Indonesia Timur, nama ANIMA sudah seperti band besar sekelas GIGI atau Sheila on 7 misalnya. Setiap menggelar konser disana, lebih dari lima ribu orang, selalu memadati lapangan dimana mereka main. Ditambah nyaris semua penonton itu hapal diluar kepala dengan lagu-lagu yang mereka bawakan. Alhasil, setiap mereka konser sudah seperti koor massal saja. Lalu, siapa ANIMA ini? Anima kependekan dari Anak Seni Berlima, sebuah band asal Bandung yang berformasikan: Lucky [vokal], Eldy [bass], Andri [drum], Rhino [gitar], N-Kan [lead gitar]. Terbentuk pada 4 Januari 2004, lima sekawan ini bergulat dalam belantara musik tanah air melalui jalur label indie. Melalui debut album berjudul Bintang, perlahan tapi pasti mereka merebut perhatian pencinta musik Indonesia. Lagu mereka tersebar di stasiun-stasiun radio dari Sabang sampai Merauke, dan menempatkan single “Bintang” dalam urutan terhormat chart radio.

Kisah sukses pun mendekat mereka. Suatu hari mereka mendapat kesempatan tampil di acara musik di daerah Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tak dinyana inilah titik awal popularitas Anima. Aula El Tari, Kupang dipadati penonton lebih dari 8.000 orang, sebuah prestasi hebat paling bersejarah untuk Anima. Yang membuat ANIMA merinding adalah hampir semua penonton tersebut hapal lagu-lagu Anima. Selanjutnya popularitas mereka pun melesat bak meteor. Ambon menjadi saksi bagaimana sekitar 7.000 penonton memadati Karang Panjang Sports Hall saat Anima tampil bersama Samsons. Menyusul kota-kota seperti Masohi (Maluku Utara), Tual (Maluku) hingga Jayapura dan Sorong menyambut Anima dengan antusias. Tak pelak lagi Anima kini mempunyai fans ‘akar rumput’ yang kuat di wilayah Indonesia Timur. Seiring dengan berjalannya waktu, demam Anima juga merambah ke pulau Jawa. Bandung, Bogor, Kuningan, Cirebon adalah kota-kota yang pernah disinggahi mereka dan mendapat sambutan yang tak kalah positif.

Satria Band juga masuk deretan band yang dianggap kelas C dan D tadi. Band beranggotan 5 orang cowok ini baru menelurkan album perdana berjudul Bukan Akhir, di bawah bendera DNB Records. Dengan lagu andalan Ssst… (Jangan Bilang-Bilang).

Dengan personil Ipe (vokal), Adie (gitar), Kiki (bass), Wisnu (keyboard) dan Angga (drum), Satria yang berdiri pada 2 Agustus 2004 lalu mencoba menelisik ke pasar musik nasional. Sejak awal berdiri, Satria sudah berusaha untuk tampil profesional. Tekad ini mereka terapkan pada setiap aksi panggung mereka di sejumlah pentas musik, festival dan pertunjukan komersil di Jawa Tengah. Tak hanya di propinsi mereka, Jakarta pun mereka jajal pula dengan ikut serta di beberapa pensi sekolah dan kampus, mall dan panggung umum.

Yang juga digadang-gadang sebagai band yang punya prospek mengisi ruangan kosong band-band ‘ranyah’ adalah VAGETOZ. Band ini punya cerita unik. Mereka yang terdiri dari Teguh (vokal), Acep G dan Irman (gitar), Budi (bas) dan Rudi P (drum) sebenarnya adalah Juara Pertama A Mild Live Wanted 2007 regional Jawa Barat. Tapi entah kenapa, mereka memilih mundur dengan alasan belum sanggup untuk berkomitmen penuh dalam memberikan total waktu, energi dan perhatian dalam menjalani rangkaian kegiatan yang telah dipersiapkan untuk masing-masing juara A Mild Live Wanted 2007 tingkat regional. Dan jawaban dari mundurnya Vagetoz adalah ternyata mereka dikontrak oleh SonyBMG dan merilis full album.

Matta band juga bagian dari band-band sejenis. Single jagoan di album pertama mereka yang berjudul ‘Ketahuan’ sering membingungkan orang, ini dangdut apa pop ya. Lagu simple, gampang dan langsung nancep dengan bahasa-bahasa yang biasa kita dengar sehari-hari. Mendengar single pertama ini, kita memang dibawa dalam suasana konyol dengan lagu pop, tapi diberi sisipan dangdut, meski tak dominan. “Dari nada awalnya saja, kita sudah terasa sentuhannya kok,” ujar Sunu sambil tertawa ketika ngobrol dengan TEMBANG.com.

BRE band Jogjakarta ketika masih indie, sebenarnya tidak terlalu melayu. Ketika digaet label, mereka menyesuaikan dengan pasar yang dibidik. Band yang di Jogja tergolong cukup lama ini, baru saja merilis album perdana [dengan major label] berjudul `SEMPURNA`.

Berawak Tama [gitar], Taka [vokal], Alfan [bass], Fendy [gitar], dan Tony [drum], band yang dibentuk 10 Agustus 2002 ini sebenarnya pernah merilis mini album bertajuk `HEY..” [Agustus 2005] silam. Album yang berisikan 5 lagu baru ini, juga telah beredar di radio-radio lokal. Single yang bisa kamu nikmati dari album “Hey” adalah, “Setengah Mati”, “Gadis”, “Belia”, “Hey” dan “Wanita”. Kemudian single lawas Sempurna juga diaransemen ulang, dalam istilah BRE adalah nude version.

Salah? Siapa yang bilang? Hanya rasanya perlu ada pemahaman mengapa pilihan musikalitas dan perubahan selera sering mengejutkan dan kadang-kadang membingungkan. Yang jelas, dimana-mana perubahan itu memang tidak bisa dicegah, melesat cepat seperti meteor.

Kalau dikaitkan dengan soal pilihan musikalitas, jangan paksa penikmat jazz untuk menikmati dangdut. Meski ada juga yang bisa mengapresiasi. Analoginya, jangan paksa makan bakso kalau ternyata sukanya nasi goreng. Lalu apakah pilihan-pilihan itu salah? Kata siapa? Mungkin pilihan itu dianggap ndesit, tidak berkelas, menikmati “kotoran” saja. Tapi siapa sih yang bisa menghakimi karya? Kalau kemudian ada komentar, “Siapa yang merasa dirinya bisa berkarya [lebih baik] dan diterima, silakan menghujat!” Penulis yakin, masih-masing kita akan merasa karya kitalah yang terbaik. Jakarta memang sering “dituding” membawa perubahan selera pada kuping lokal di daerah. So, mengapa mengharuskan orang untuk ikut pilihan kita?

Lagunya Sederhana. Itukah Katrow?
Lalu, musik yang bagus itu kayak apa sih? Sebenarnya rada susah menentukannya. Karena gue, loe dan mereka Hal ini relatif bagi setiap orang terutama mereka yang memiliki selera yang berbeda dengan selera kebanyakan orang. Bagi saya, musik yang bagus itu adalah musik yang tidak mengenal trend, memiliki lirik yang bagus terkecuali apabila lirik lagu adalah instrumen seperti lagu-lagu Whitney Houston misalnya dan pas dinyanyikan oleh penyanyinya. Namun, bisa disimpulkan musik yang dihasilkan oleh musisi yang bagus, biasanya tidak lekang dimakan zaman. Mau mendengarkan 10 tahun yang lalu atapun sekarang sama enaknya.

Kini, musik itu industri. Industri itu adalah alat untuk mencari uang. Idealis yang terlalu ekstrim juga kurang diterima. Misalnya saja, ada yang mau buat album reggae, kalau memang arah industrinya lagu bukan reggae, ya susah jualannya. Major label memberi kontrak ke musisi itu butuh modal yang besar sekali. Komersialisasi satu produk juga harus dilihat dari hasil yang bisa didapatkan. kalau bandnya enggak bisa ngejual ya jangan selalu disalahkan labelnya. Tapi kalau kemudian label mengambil band yang –katakanlah ecek-ecek—dan kemudian laku? Apakah itu bisa disebut label itu kacangan? Penulis lebih melihat mereka realistis [realistis lihat peluang, realistis lihat pasar, realistis dengan kondisi penikmat musik yang tidak mau capek dengan musik yang ribet].

Gampangnya, karya itu tidak ada yang jelek. Karya itu tidak ada yang kacangan. Tidak ada karya sampah. Jadi, loe-loe semua, jangan takut berkarya. Apapun kata orang tentang karya loe, lanjutkan saja. Orang memang lebih mudah menghakimi, belum apresiasi pada proses. Jadi, maju teruuuus deh….

August 28, 2007

HAri iNi … untuk sang ksatria bodoh !!

Filed under: My ROMANZA —— dewi-hera @ 11:18 pm

ah, BAGIKU cinta adalah sesuatu yang SEDERHANA
dan ketika itu menjadi SULIT

artikan saja kalau cinta itu SUDAH HILANG
diantara AKU dan KAMU

dan ketika KALIAN saling MENYALAHKAN
SALAHKAN saja DIRIMU

karena sesungguhnya dirimulah yang TIDAK BISA MENJAGA KEBERADAAN cintanya
dan MEMBIARKAN cinta pergi

MENANGIS !?
tangisilah dirimu sendiri

karena sesungguhnya cinta itu tidak memiliki batas
bukan antara langit dan bumi
bukan antara surga dan neraka
dan juga bukan diantara musim

karena sejujurnya ENGKAU BISA MEMBUAT CINTA itu
SEDEKAT YANG KAU INGINKAN
dan
SEJAUH YANG KAU INGINKAN
__________________

DiScO pUnK

Filed under: Music —— dewi-hera @ 10:45 pm

HOUSE PUNK
CLUBBING GAYA BARU

Serbuan genre disco punk mulai nggak tertahankan. Dari sini babak baru industri musik dunia bakal bermula?

Clubbing scene makin seru aja! Penyebab utamanya tuh muncul genre musik baru buat nge-dance yang lebih asik. Nama genre-nya tuh disco punk!

Awalnya mungkin agak bingung dengan penggabungan konsep 2 genre ini. Meski keduanya sama-sama energik dan inspiring, tapi masing-masing berada pada 2 kubu yang berbeda. Lebih jelasnya tau kan gimana attitude di masing-masing genre tadi? Yang satu full of glamorous, dan yang satunya lagi anti glamour.

Tapi itu kan cuma masalah attitude. Nggak ada salahnya kalo musik kedua genre tadi pengen disejajarkan. Eksperimen kayak ginilah yang lantas dilakuin produser party asal New York, Amrik, Death from Above (DFA).

Maraknya clubbing scene di New York tahun-tahun belakangan ini menimbulkan pemikiran buat menjadikan party lebih seru. Idenya ternyata cukup dahsyat. Persilangan antara musik dance dan punk adalah pilihannya. Nggak tahunya antusiasme yang didapat luar biasa banget. Genre musik baru tadi turut mendapat respek dari kalangan punk, rock dan hip hop.

Meski begitu di awal kemunculan genre ini, pelopornya sempet diribetin dengan sejumlah pertanyaan mendasar. Apakah pembentukan genre baru tadi bakal sukses? Faktanya tipikal musik modern tuh telah membuat semacam pemisahan yang jelas antar genre. Artinya genre tersebut harus bisa menghilangkan tipikal ini.

Nyatanya interest besar terhadap disco punk adalah jawabannya. Apalagi nggak cuma produser party aja yang bikin genre tadi exist. Sejumlah band ikutan menyerbu dengan konsep musik kayak gini. Diantaranya The Rapture, The Music, atau The Raveonettes. Banyaknya fans band-band tadi bikin nih genre makin populer.

So, begitulah yang namanya disco punk. Genre yang meraih popularitas dengan cepat lantaran sukses membangkitkan energi dan attitude pada musik dance. Bukannya nggak mungkin nih genre bakal bertahan dalam waktu cukup lama.

August 7, 2007

FOR : yang katanya sahabatku …

Filed under: My ROMANZA —— dewi-hera @ 9:39 pm


glitter-graphics.com

Persahabatan TIDAK MEMERLUKAN BASA-BASI
Wajah dipoles atau rayuan hati
Persahabatan TIDAK BERLEBIHAN MEMBERI PUJIAN
Persahabatan TIDAK MEMAKAI SENYUM DI PERMUKAAN

Persahabatan mengikuti proses alami
Menjauhi ajakan dan bujukan seni
Dengan berani memisahkan kebenaran dari dusta
Berbicara bahasa dari dalam hati saja

Persahabatan TIDAK MENGUTAMAKAN PERSYARATAN
MENOLAK SEMBOYAN PICIK dan SEMPIT PANDANGAN
Dengan kasih sayang memenuhi maksud dan tujuan
Dalam kata ataupun dalam perbuatan

Persahabatan MENYEMANGATI yang lesu dan lelah
MENGUBAH si penakut menjadi gagah
MEMPERINGATKAN yang bersalah
MENERANGKAN yang suram

Persahabatan murni TIDAK MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI
Sepanjang kehidupan kita yang diberi
MENGUATKAN, MELUASKAN, MEMANJANGKAN, MEMELIHARA
HUBUNGAN ANTAR MANUSIA DENGAN MANUSIA

………………..dst.dst.dst……………….
………………..dst.dst.dst……………….
………………..dst.dst.dst……………….

biNguNx mO nULis pa Laghie yaA ..
dAh AHHH…puzzieenxx!!!!!!

PERSAHABATAN [sahabat sedjati]

Filed under: My ROMANZA —— dewi-hera @ 8:20 pm

Dapet Dari Bulletin Di Friendster nich… setelah aq baca ternyata isinya nonjok abiez ,
dan mungkin bs qt jadikan sebagai bahan “perenungan”….

SUDAHKAH QT MENJADI SEORANG SAHABAT YG BAIK UTK SAHABAT QT ?????

Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan
dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan
mempunyai nilai yang indah.

Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi
persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan
bertumbuh bersama karenanya…

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi
membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkanbesi,
demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya. Persahabatan
diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti,
diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak,
namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan
dengan tujuan kebencian.

Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan
untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya
ia memberanikan diri menegur apa adanya.

Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman,
tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan
dengan tujuan sahabatnya mau berubah.

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha
pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita
membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi
mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih
dari orang lain, tetapi justru ia beriinisiatif memberikan
dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.

Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya,
karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis.
Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati,
namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya.
Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun
ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.

Beberapa hal seringkali menjadi penghancur
persahabatan antara lain :
1. Masalah bisnis UUD (Ujung-Ujungnya Duit)
2. Ketidakterbukaan
3. Kehilangan kepercayaan
4. Perubahan perasaan antar lawan jenis
5. Ketidaksetiaan.
Tetapi penghancur persahabatan ini telah berhasil dipatahkan
oleh sahabat-sahabat yang teruji kesejatian motivasinya.

RENUNGKAN :
**Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri

**Dalam masa kejayaan,teman2 mengenal qt. Dalam kesengsaraan,qt mengenang teman2 qt.

WPMU Theme pack by WPMU-DEV.