Dunia Dewi

January 2, 2008

Nasib Pulau Jawa Kian Memprihatinkan

Filed under: Uncategorized —— dewi-hera @ 12:13 am

Pulau Jawa semakin memprihatinkan. Pulau berpenduduk paling padat di negeri ini semakin hari menunjukkan penurunan kualitas lingkungan yang amat dahsyat. Kota dan desanya masing-masing membuat problemnya sendiri-sendiri. Kotanya semakin padat dan semrawut, sedangkan desanya dibiarkan tidak terurus karena sebagian besar penghuninya bermigrasi ke kota. Migrasi terjadi karena desa semakin tidak bisa menjanjikan apa-apa karena sektor pertanian mengalami penurunan margin yang amat besar. Bekerja di sektor pertanian hanyalah “kerja bakti” karena biaya produksi naik berlimpat-lipat tetapi harga cenderung stabil, sehingga tidak menguntungkan sama sekali.

Desa tidak lagi bisa digambarkan dengan keadaan loh jinawi karena lahan yang hijau semakin berkurang. Lahan pertanian miskin pengairan karena waduknya mudah sekali kering, Petani yang kuat akan menggunakan pompa air untuk menyedot air tanah. Akibatnya mudah diduga yakni biaya produksi naik karena harus membeli minyak disel. Air yang biasanya dengan mudah didapatkan dengan gratis, terpaksa harus dibeli agar kelangsungan musim tanam terjaga. Tetapi karena sistem irigasi semakin rusak, maka air gratis yang datang telah berubah menjadi banjir. Dan, seperti terjadi di Grobogan, Demak, Sragen, dan daerah lainnya air gratis itu berubah menjadi ancaman.

Di Jawa Tengah ada sebuah waduk besar yang disebut Gajah Mungkur. Sudah beberapa kali diisyaratkan terjadinya sedimentasi yang tinggi di sini. Umur teknis waduk diperkirakan lebih pendek dari perkiraan karena gerusan air yang masuk ke waduk tersebut semakin tidak terkendali. Hampir seluruh daerah aliran sungai menuju waduk rusak cukup berat. Kini semua telah berubah. Aliran air Bengawan Solo dari Wonogiri menuju Gresik telah menghentikan aktivitas beberapa kota. Bojonegoro hampir 70 persen wilayahnya tenggelam. Ini baru satu sungai. Belum lagi jika sungai-sungai besar di Jawa seperti Brantas (Jatim), Serayu (Jateng), dan juga Ciliwung, Citandui dan Citarum di Jawa Barat ikut bergolak.

Tahun lalu Jakarta tenggelam. Kini isyarat tenggelam lagi cukup kuat jika dilihat dari curah hujannya, sementara dalam satu tahun ini tidak ada perubahan yang berarti dalam manajemen penanggulangan banjir. Bukan hanya Jakarta, tetapi kota-kota besar di Jawa teracam seperti Semarang, Surabaya, Solo, dan lainnya tidak akan pernah sepi dari ancaman banjir. Banjir yang tahun lalu misalnya tidak datang menyapa, tiba-tiba hari ini bisa datang mendadak. Madiun, Ponorogo, dan juga Ngawi sudah lama sekali tidak tersentuh, kini banjir datang menyapa lebih keras. Kota-kota bawah nasibnya seperti ini, tetapi kota di punggung gunung juga teracam longsoran tanah dan banjir dari atas bukit.

Nah, ketika tempat hunian ini tidak lagi nyaman dan bebas dari bencana banjir maka sangat dibutuhkan revitalisasi manajemen penanggulangan banjir. Bukan hanya sebatas ini, tetapi harus ada revolusi besar-besaran atas sikap dan perilaku masyarakat terhadap lingkungan. Pemerintahlah yang akan menjadi dirijen untuk melakukan revolusi itu. Perlu disiapkan UU lingkungan yang lebih tegas bahkan keras untuk melindungi wilayah-wilayah yang memang harus dilindungi. Para perusak hutan harus diganjar dengan hukuman yang lebih keras tanpa kompromi, karena mereka inilah yang sebenarnya melakukan pembunuhan terencana. Mereka secara sistematis menghancurkan peradaban.

Jika seluruh Jawa dibiarkan dengan kondisi seperti ini terus, paling hanya dibutuhkan 10-20 tahun lagi untuk sampai pada kesimpulan pulau ini tidak layak dihuni. Jika kota-kota di seluruh pantura hancur karena air pasang, sedangkan yang berada di daerah aliran sungai tenggelam oleh banjir, dan yang berada di penggunungan tergerus tanah longsor, maka benar-benar sebuah kiamat bagi pulau ini. Seharusnya keadaan ini segera kita beranjak pada kesadaran komunal untuk berpikir lebih jernih, dan bertindak lebih arif bukan hanya di saat banjir datang menyapa. Pemerintah perlu lebih serius menata dan memperhatikan pembangunan seluruh daerah aliran sungai (DAS) di Jawa sejak sekarang !

Leave a Reply

WPMU Theme pack by WPMU-DEV.